Tangis para pemain Indonesia pecah begitu wasit asal Australia Peter Daniel Green meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir. Saat para pemain Malaysia bersujud syukur atas gelar juara Piala AFF yang diraih, beberapa penggawa skuad Merah Putih bersujud lemas. Kecewa. Sedih. Merasa bersalah kepada masyarakat Indonesia yang sudah habis-habisan mendukung.

Wajah para pemain makin terlihat memelas saat di depan hidung mereka para pemain Malaysia bersorak-sorai mengangkat trofi juara. Saat skuad Harimau Malaya, julukan timnas Malaysia, masih merayakan kemenangan di atas podium, satu per satu pemain Indonesia beringsut meninggalkan lapangan menuju ruang ganti.

Kepala mereka tertunduk. Mata mereka sembap. Tidak satu pun kata keluar dari mulut mereka. Padahal, dalam lima laga home sebelumnya, mata para pemain selalu berbinar-binar setiap melewati jalan menuju ruang ganti. Bibir asisten pelatih Wolfgang Pikal bahkan masih terlihat bergetar. Hanya pelatih Alfred Riedl yang tetap terlihat “dingin”, gaya khasnya.

Suasana beku tersebut belum berubah ketika tim meninggalkan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pukul 22.15. Hal itu terjadi tak lain karena ribuan suporter Merah Putih ternyata masih setia menanti dan mendukung penuh para pahlawan timnas tersebut.

Ribuan suporter itu sengaja menunggu bus PSSI yang mengangkut para pemain karena ingin tetap memberikan semangat kepada Firman Utina dkk. Di dalam bus yang berjalan lambat, skuad timnas hanya bisa melambaikan tangan kepada para pendukung fanatik tersebut. Di sepanjang jalan menuju Hotel Sultan tempat mereka menginap, massa di kanan kiri jalan juga tak henti-henti mengelukan nama para pemain. Skuad timnas pun tampak terharu melihat antusias para penggila bola (gibol) tersebut.

Tim Nasional Indonesia, Tetap semangatlah.. Kami akan selalu mendukungmu dan garuda akan selalu ada di tersemat di dada kami..

Sumber:www.jpnn.com