Kawasan Kepulauan Krakatau yang terdiri dari gugusan  pulau –pulau kecil yaitu Pulau Krakatau Besar (Rakata), Pulau Krakatau Kecil (Panjang), Pulau Sertung dan Pulau Anak Krakatau serta perairan disekitarnya ditetapkan sebagai Cagar Alam sejak tahun 1919 berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No.83 Stbl 392 tanggal 11 Juli 1919 Jo.No.7 Stbl 392 tanggal 5 Januari 1925 dengan luas  2.405,10 Ha.  Untuk menjaga keutuhan dan kesatuan kawasan Cagar Alam Kepulauan Krakatau sebagai salah satu kawasan konservasi  yang penting dalam menunjang perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan kebudayaan kawaan Cagar Alam Kepulauan Krakatau diperluas lagi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.85/Kpts-II/1990 tanggal 26 Februari 1990 luasnya menjadi 13.735,10Ha yang terdiri dari Cagar Alam Laut seluas seluas 11.200 Ha dan Cagar Alam daratan seluas 2.535,10 Ha.  Kawasan ini juga memiliki kekayaan dan keunikan tersendiri baik secara geologis maupun ekologis.

Selama lebih dari seratus tahun sejak sterilasi akibat letusan dahsyat pada tahun 1883, Kepulauan Krakatau telah dimonitor dan ditelaah secara terus-menerus oleh berbagai ilmuwan dan ahli ekologi terutama mengenai lingkungan daratannya (ekologi terestrial).  Di antara berbagai aspek lingkungan daratan yang banyak dikaji adalah aspek perkembangan komunitas yang terbentuk, baik komunitas flora maupun komunitas fauna.

Posisi Kepulauan Krakatau yang terletak tepat di pertemuan tiga daerah ‘volcanic fracture region’ yaitu Sumatera, Selat Sunda dan Jawa, menyebabkan kawasan Cagar Alam Laut Kepulauan Krakatau memiliki keunikan tersendiri, baik perkembangan geologis maupun ekologisnya.  Kep. Krakatau terdiri dari gugusan pulau-pulau yaitu : P. Krakatau Besar (Rakata), P. Krakatau Kecil (Panjang), dan P. Sertung yang  diduga merupakan gugusan pulau sisa letusan G. Krakatau Purba pada sebelum abad ke-19 dan letusan G. Krakatau pada tahun 1883 (Thornton, 1996).  Letusan G. Krakatau yang sangat hebat pada tahun 1883 diduga menyebabkan pemusnahan hutan yang sempurna di kawasan Kepulauan Krakatau sehingga vegetasi yang ada saat ini merupakan vegetasi baru.